Minggu, 03 Mei 2015

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (4)

Perlunya sosialisasi dalam kehidupan seseorang sejak lahir sampai meninggal dunia
v Sejak lahir manusia telah mengalami proses sosialisasi. Pada dasarnya tidak ada seorang manusia pun yang tidak melakukan proses sosialisasi dalam hidupnya. Manusia hidup dari dan dalam masyarakat
v Tanpa sosialisasi, kemampuan akal, emosi dan jiwa seseorang tidak dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan masyarakatnya.
                                   
Sikap Antisosial
v Sikap atau perilaku yang tidak mempertimbangkan penilaian dan keberadaan orang lain ataupun masyarakat secara umum di sekitarnya.
v Tindakan-tindakan antisosial sering kali mendatangkan kerugian bagi masyarakat luas, sebab pada dasarnya si pelaku tidak menyukai keteraturan sosial yang diinginkan oleh sebagian besar anggota masyarakat lainnya.

Tipe Tindakan Antisosial
v  Dilakukan di jalan. Contoh: membuang sampah sembarangan, melanggar rambu lalu lintas, meminta-minta dsb
v  Dilakukan oleh tetangga. Contoh: menyetel radio untuk mendengarkan musik dengan terlalu keras
v  Dilakukan terhadap lingkungan sekitar. Contoh: mencorat-coret dan merusak telepon umum atau bis kota atau tembok dan meja kelas

Macam-Macam Pengendalian Sosial
v  Pengendalian melalui Institusi dan Non-Institusi
Institusi: cara pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan keluarga. Non-Institusi: cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada, seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara ini seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.
v  Pengendalian secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
Lisan: cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal). Simbolik: cara pengendalian sosial yang dapat dilakukan melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan masyarakat. Lisan dan Simbolik (sering disebut juga cara pengendalian sosial persuasif): cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Kekerasan (sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif): cara pengendalian sosial yang menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik. Tindakan ini bertujuan agar si pelaku jera dan tidak melalukan perbuatannya lagi. Cara ini sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah cara pengendalian persuasif dilakukan. 
v  Pengendalian melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment)
Imbalan: cara pengendalian sosial ini bersifat preventif (mengalihkan), yaitu seseorang diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Hukuman: cara pengendalian sosial ini cenderung bersifat represif, yaitu bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi.
v  Pengendalian secara Formal dan Informal
Formal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat pekerja, atau lembaga peradilan. Informal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Cara pengendalian dalam kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan.
v  Pengendalian melalui Sosialisasi
Agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi.  Dalam hal ini individu yang menjadi anggota masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.  Apabila masing-masing individu memiliki pengalaman yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial, karena melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai sserta akan berperilaku konform (menyesuaikan diri)
v  Pengendalian melalui Tekanan Sosial

Suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok, dengan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut. Seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama atau sesuai dengan pandangan kelompoknya.

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (3)

BAB VI
PENGENDALIAN SOSIAL

Hakikat Pengendalian Sosial
v Perilaku menyimpang seperti tawuran pelajar, hubungan seks pranikah, homoseksual, obat-obatan terlarang dan lain-lain adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, menganggu keteraturan sosial (Social Order).
v Pengendalian sosial terjadi jika ada keserasian antara perubahan dan stabilitas yang ada di dalam masyarakat.

Pengertian Pengendalian Sosial
v  Dalam sebuah masyarakat terdapat norma sosial yang mengatur perilaku anggota masyarakat. Norma sosial ini tumbuh melalui proses sosialisasi. Ada perilaku yang diperbolehkan, ada yang tidak diperbolehkan, ada yang benar, ada yang salah.
v  Masyarakat akan selalu berupaya untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sehingga terwujud keseimbangan sosial. Upaya ini disebut dengan pengendalian sosial
v  Pengendalian sosial adalah upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat
v  Pengendalian sosial melalui proses terencana: menganjurkan, membujuk, memaksa untuk menyesuaikan diri
v  Pengendalian sosial melalui cara pemaksaan konformitas: mekanisme desas desus, mengolok-olok, mengucilkan, menyakiti

 Tujuan Pengendalian Sosial
v agar tercipta sebuah keteraturan sosial
v untuk mencapai keserasian antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat

Perubahan Sosial
v  Perubahan sosial adalah mengubah tatanan sosial yang sudah ada sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sistem sosial.
v  Dekadensi moral yang terjadi berupa seks bebas akibat ditemukannya berbagai alat kontrasepsi. Kaum muda tidak lagi melihat seks sebagai suatu siklus reproduksi manusia yang sakral, tetapi hanya sebagai sebuah rekreasi. Mereka tidak khawatir pada kehamilan di luar nikah karena telah tersedia alat-alat kontrasepsi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi
v  Perubahan sosial seperti ini jelas mengganggu keseimbangan sosial dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma kesusilaaan dan nilai-nilai luhur sebuah perkawinan.

Pengendalian melalui Institusi dan Non-Institusi
v Institusi: cara pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan keluarga.
v Non-Institusi: cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada, seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara ini seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.

Pengendalian secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
v  Lisan: cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal)
v  Simbolik: cara pengendalian sosial yang dapat dilakukan melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan masyarakat.
v  Lisan dan Simbolik (sering disebut juga cara pengendalian sosial persuasif): cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.
v  Kekerasan (sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif): cara pengendalian sosial yang menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik. Tindakan ini bertujuan agar si pelaku jera dan tidak melalukan perbuatannya lagi. Cara ini sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah cara pengendalian persuasif dilakukan. 

Pengendalian melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment)
v Imbalan: cara pengendalian sosial ini bersifat preventif (mengalihkan), yaitu seseorang diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.
v Hukuman: cara pengendalian sosial ini cenderung bersifat represif, yaitu bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi.

Pengendalian secara Formal dan Informal
v  Formal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat pekerja, atau lembaga peradilan.
v  Informal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Cara pengendalian dalam kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan.

Pengendalian melalui Sosialisasi
v Agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi.
v Dalam hal ini individu yang menjadi anggota masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.
v Apabila masing-masing individu memiliki pengalaman yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial, karena melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai sserta akan berperilaku konform (menyesuaikan diri)

Pengendalian melalui Tekanan Sosial
v Suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok, dengan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut.
v Seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama atau sesuai dengan pandangan kelompoknya.




BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (2)

BAB V
PERILAKU MENYIMPANG
                                                                                      
 Definisi perilaku menyimpang (Lawang)
v Semua tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial (Lawang)
v Penyimpangan tidak hanya dapat dikategorikan kepada individu atau masyaraka dengan kategori penyimpangan dan penyimpang, tetapi akan dijumpai pula yang disebut dengan institusi menyimpang (Korblum)
v Tindakan yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Norma dan nilai sosial masyarakat yang satu berbeda dengan norma dan nilai sosial masyarakat lainnya (Zanden)

 Bentuk-bentuk perilaku menyimpang (Lemert)
v Penyimpangan primer: perbuatan menyimpang yang dilakukan seseorang, namun sang pelaku masih dapat diterima secara sosial. Ciri penyimpangan: sifatnya sementara, tidak berulang, dan dapat ditolerir masyarakat, seperti mengendarai motor atau mobil melebihi kecepatan yang normal/kebut-kebutan
v Penyimpangan sekunder: perbuatan yang dilakukan seseorang secara umum dikenal perbuatan atau perilaku menyimpang. Seperti memerkosa, membunuh, merampok, mabuk-mabukan, dll.

Tipe atau cara adaptasi individu terhadap situasi tertentu (Merton)
v Cara adaptasi konformitas: perilaku seseorang mengikuti cara dan tujuan yang telah ditetapkan oleh masyarakat
v Cara adaptasi inovasi: perilaku seseorang mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakat
v Cara adaptasi ritualisme: perilaku seseorang telah meninggalkan tujuan budaya, tetapi tetap berpegang teguh pada cara yang telah ditetapkan masyarakat
v Cara adaptasi retreatisme: perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan dan cara yang dikehendaki
v Cara adaptasi pemberontakan: orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan berupaya menciptakan struktur sosial yang baru
v Dari keseluruhan tipe-tipe tersebut, tipe adaptasi pertama merupakan bentuk perilaku yang tidak menyimpang, sementara empat tipe berikutnya merupakan bentuk perilaku menyimpang

 Hubungan antara perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna
v sering terjadi ketidaksepadanan antara pesan yang disampaikan pelaku sosialisasi yang satu dengan pelaku sosialisasi yang lain, ketidaksepadanan ini membuat sosialisasi menjadi kurang sempurna
v ketidaksepadanan pesan-pesan yang disampaikan oleh pelaku-pelaku sosialisasi juga bisa dilihat dari maraknya perkelahian antar pelajar yang menjurus pada tindakan kriminal
v norma dan nilai sosial keagamaan yang ditawarkan sejak mereka bayi tidak cukup berjalan dan sinkron untuk bisa dihadapkan dengan kenyataan dalam masyarakat
v perilaku menyimpang juga bisa terjadi ketika dalam proses sosialisasi, seseorang mengambil peran yang salah dari generalized others atau meniru perilaku yang salah
v perilaku menyimpang juga terjadi pada masyarakat yang memiliki nilai-nilai sub kebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya bertentangan dengan norma budaya yang dominan

Sifat-sifat perilaku menyimpang
v Penyimpangan yang bersifat positif: penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap sistem sosial karena mengandung unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya alternatif. Penyimpangan demikian umumnya dapat diterima masyarakat karena sesuai dengan perubahan zaman.
v Penyimpangan yang bersifat negatif: pelaku bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang dipandang rendah dan berakibat buruk serta menggangu sistem sosial. Tindakan dan pelakunya akan dicela dan tidak diterima oleh masyarakat. Bobot penyimpangan dapat diukur menurut kaidah sosial yang dilanggar

Macam-macam perilaku menyimpang
v  Tindakan kriminal atau kejahatan: umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama yang berlaku di masyarakat
v  Penyimpangan seksual: perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan
v  Pemakaian dan pengedaran obat terlarang: merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan norma sosial maupun agama
v  Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup: yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan eksentrik

 Tipe atau jenis kejahatan (Light, Keller, Calhoun, Giddens)
v  Kejahatan tanpa korban (crime without victim): tidak mengakibatkan penderitaan pada korban akibat tindak pidana orang lain
v  Kejahatan terorganisasi (organized crime): merupakan komplotan yang secara berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan dengan jalan menghindari hukum
v  Kejahatan kerah putih (white collar crime): kejahatan yang mengacu pada kejahatan yang dilakukan oleh orang terpandang atau orang yang berstatus tinggi dalam rangka pekerjaannya
v  Kejahatan pemerintahan (govermental crime): kejahatan yang dilakukan atas nama organisasi dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian
v  Kejahatan pemerintahan (govermental crime):  kejahatan yang dilakukan oleh lembaga atau aparat pemerintahan resmi di sebuah negara
v  Kejahatan dunia maya (cyber crime): dengan berkembang teknologi informasi, dengan menyebarluaskan virus komputer, pornografi, pencurian kartu kredit, atau merusak sistem sebuah organisasi

 Jenis-jenis penyimpangan seksual
v  Perzinahan: hubungan seksual di luar nikah
v  Lesbianisme: hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama wanita
v  Homoseks: hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama lelaki
v  Kumpul kebo: hidup seperti suami istri tanpa nikah
v  Sodomi: hubungan seks melalui anus
v  Transvestitisme: memuaskan keinginan seks dengan mengenakan pakaian lawan jenis
v  Sadisme: pemuasan seks dengan menyakiti orang lain
v  Pedophilia: memuaskan keinginan seks dengan mengadakan kontak seksual dengan anak-anak

 Sebab-sebab terjadinya penyalahgunaan obat-obatan terlarang pada remaja
v  Perkembangan emosi yang belum stabil
v  Cenderung ingin mencoba
v  Kepribadian yang cenderung asosial (tidak mempertimbangkan orang lain, kondisi kecemasan atau depresi, situasi keluarga yang tidak harmonis, salah memilih teman, obat-obatan yang mudah diperoleh)

 Faktor-faktor yang menyebabkan remaja terjerumus pada penggunaan narkotika (Baliane)
v  Ingin membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan berbahaya
v  Ingin menunjukkan tindakan menentang orangtua yang otoriter atau siapa saja yang tidak sepaham dengan dirinya
v  Ingin melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman emosional
v  Ingin mencari dan menemukan arti hidup (yang semu)
v  Ingin mengisi kekosongan dan kebosanan (tidak memilik banyak aktivitas)
v  Ingin menghilangkan kegelisahan
v  Solidaritas di antara kawan
Ingin tahu dan iseng 

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (1)

BAB IV
SOSIALISASI & PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

Pengertian Sosialisasi
v Penanaman atau proses belajar anggota kelompok atau masyarakat tentang kebiasaan-kebiasaan di dalam kelompok atau masyarakatnya dalam sosiologi disebut sosialisasi.
v Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
v Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang berpartisipasi di dalam masyarakat
v Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang dapat berpartisipasi di dalam masyarakat (Peter L. Berger)
v Sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan tentang nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat (David Gaslin)
v Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah peran, nilai, dan norma sosial
v Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah peran-peran (Peter L. Berger)
v Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah nilai dan norma sosial (David Gaslin)

Peran Nilai dan Norma Sosial dalam Sosialisasi
v Nilai dan norma sosial merupakan isi yang dipelajari seseorang untuk membentuk dirinya, nilai dan norma sosial juga menjadi penentu bagaimana pola sosialisasi akan berlangsung dalam diri masyarakat.
v Pada dasarnya, tidak ada seorang manusia pun yang tidak melakukan proses sosialisasi dalam hidupnya. Manusia hidup dari dan dalam masyarakat
v Sosialisasi sangat penting bagi manusia, tanpa sosialisasi maka kemampuan akal, emosi, dan jiwa seseorang tidak dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan masyarakatnya

Tahapan-tahapan perkembangan diri manusia (Mead)
v Play stage: seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang-orang yang berada di sekitarnya
v Game stage: seorang anak tidak hanya mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetapi telah mengetahui peran yang dijalankan orang lain dengan siapa ia berinteraksi
v Generalized others: anak telah mampu mengambil peran-peran orang lain yang lebih luas (generalized others), tidak sekedar orang-orang terdekatnya (significant others)

Tahapan-tahapan diri seseorang yang berkembang melalui interaksi atau bercermin dengan orang lain (Chooley)
v seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain
v seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan itu
v seseorang membangun konsepsi tentang dirinya berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya itu

Tujuan-tujuan sosialisasi
v membekali seseorang dengan keterampilan tertentu
v mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif
v mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan mawas diri yang tepat
v membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat

Faktor-faktor yang membentuk atau menentukan kepribadian seseorang
v Warisan biologis (keturunan): faktor keturunan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan bahan mentah kepribadian dan bahan mentah ini dapat dibentuk dengan dan dalam berbagai cara
v Lingkungan fisik (geografis): perbedaan perilaku kelompok terutama disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi (permukaan atau relief bumi), dan sumber alam
v Kebudayaan: keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, baik berupa gagasan, aktivitas, dan hasil dari aktivitas manusia yang digunakan untuk memahami lingkungan dan pengalamannya, serta dijadikan pedoman hidup anggota masyarakat
v Pengalaman kelompok: masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok degan budaya dan standar atau ukuran moral yang berbeda, dan digunakan untuk menentukan mana kepribadian yang baik (sesuai dengan harapan) dan mana yang tidak baik
v Pengalaman unik: tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama satu sama lainnya dan tidak seorang pun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama

Agen-agen sosialisasi  (Fuller dan Jacobs)
v Keluarga: pada awal kehidupan seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orangtua dan saudara kandung, kemudian sistem keluarga luas (paman, bibi, kakek, nenek), kemudian sekarang ada pengasuh (baby sitter) dan pekerja pada tempat penitipan anak yang secara status bukan anggota keluarga. Pengaruh orangtua yang sangat dominan tidak jarang dapat menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua terhadap anaknya sendiri (penganiayaan/child abuse dan perkosaan). Sebaliknya perilaku dan sikap anggota keluarga yang cenderung disiplin akan mudah dan menjadikan anak disiplin
v Kelompok sebaya atau sepermainan (peer group): setelah anak dapat berjalan, berbicara, bepergian, mulai bertemu dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang biasanya berasal dari keluarga lain. Anak mempelajari berbagai aturan tentang peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat, sehingga mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran, toleransi, dan solidaritas
v Sekolah: seseorang akan mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun kelompok sepermainannya. Sekolah mempersiapkan untuk peran-peran baru di masa mendatang saat ia tidak tergantung lagi pada orangtua. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelektual anak, tetapi juga mempengaruhi kemandirian, tanggungjawab dan tata tertib
v Media massa: merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar. Penayangan film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku keras, mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak, dan iklan yang ditayangkan mempunyai potensi untuk memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup masyarakat.

Bentuk-bentuk sosialisasi (Light, Keller, Callhoun)
v Sosialisasi primer: sosialisasi pada tahap-tahap awal kehidupan seseorang sebagai manusia. Sosialisasi primer akan mempengaruhi seorang anak untuk dapat membedakan dirinya dengan orang lain yang berada di sekitarnya, seperti ayah, ibu, kakak, dan adik
v Sosialisasi sekunder: proses berikutnya yang memperkenalkan individu ke dalam lingkungan di luar keluarganya, seperti sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja

Tipe-tipe sosialisasi
v Formal: terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
v Informal: terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesaama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat

Pola-pola sosialisasi (Jaeger)
v Sosialiasasi represif: menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan pada kepatuhan anak pada orangtua, penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, non verbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orangtua dan pada keinginan orangtua, dan peran keluarga sebagai significant others.
v Sosialisasi partisipatoris: pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik, hukuman dan imbalan bersifat simbolik, dalam proses ini anak diberi kebebasan, penekanan pada interaksi dan komunikasi yang bersifat lisan, yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak, keluarga menjadi generalized others.