Minggu, 03 Mei 2015

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (3)

BAB VI
PENGENDALIAN SOSIAL

Hakikat Pengendalian Sosial
v Perilaku menyimpang seperti tawuran pelajar, hubungan seks pranikah, homoseksual, obat-obatan terlarang dan lain-lain adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, menganggu keteraturan sosial (Social Order).
v Pengendalian sosial terjadi jika ada keserasian antara perubahan dan stabilitas yang ada di dalam masyarakat.

Pengertian Pengendalian Sosial
v  Dalam sebuah masyarakat terdapat norma sosial yang mengatur perilaku anggota masyarakat. Norma sosial ini tumbuh melalui proses sosialisasi. Ada perilaku yang diperbolehkan, ada yang tidak diperbolehkan, ada yang benar, ada yang salah.
v  Masyarakat akan selalu berupaya untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sehingga terwujud keseimbangan sosial. Upaya ini disebut dengan pengendalian sosial
v  Pengendalian sosial adalah upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat
v  Pengendalian sosial melalui proses terencana: menganjurkan, membujuk, memaksa untuk menyesuaikan diri
v  Pengendalian sosial melalui cara pemaksaan konformitas: mekanisme desas desus, mengolok-olok, mengucilkan, menyakiti

 Tujuan Pengendalian Sosial
v agar tercipta sebuah keteraturan sosial
v untuk mencapai keserasian antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat

Perubahan Sosial
v  Perubahan sosial adalah mengubah tatanan sosial yang sudah ada sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sistem sosial.
v  Dekadensi moral yang terjadi berupa seks bebas akibat ditemukannya berbagai alat kontrasepsi. Kaum muda tidak lagi melihat seks sebagai suatu siklus reproduksi manusia yang sakral, tetapi hanya sebagai sebuah rekreasi. Mereka tidak khawatir pada kehamilan di luar nikah karena telah tersedia alat-alat kontrasepsi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi
v  Perubahan sosial seperti ini jelas mengganggu keseimbangan sosial dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma kesusilaaan dan nilai-nilai luhur sebuah perkawinan.

Pengendalian melalui Institusi dan Non-Institusi
v Institusi: cara pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan keluarga.
v Non-Institusi: cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada, seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara ini seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.

Pengendalian secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
v  Lisan: cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal)
v  Simbolik: cara pengendalian sosial yang dapat dilakukan melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan masyarakat.
v  Lisan dan Simbolik (sering disebut juga cara pengendalian sosial persuasif): cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.
v  Kekerasan (sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif): cara pengendalian sosial yang menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik. Tindakan ini bertujuan agar si pelaku jera dan tidak melalukan perbuatannya lagi. Cara ini sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah cara pengendalian persuasif dilakukan. 

Pengendalian melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment)
v Imbalan: cara pengendalian sosial ini bersifat preventif (mengalihkan), yaitu seseorang diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.
v Hukuman: cara pengendalian sosial ini cenderung bersifat represif, yaitu bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi.

Pengendalian secara Formal dan Informal
v  Formal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat pekerja, atau lembaga peradilan.
v  Informal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Cara pengendalian dalam kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan.

Pengendalian melalui Sosialisasi
v Agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi.
v Dalam hal ini individu yang menjadi anggota masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.
v Apabila masing-masing individu memiliki pengalaman yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial, karena melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai sserta akan berperilaku konform (menyesuaikan diri)

Pengendalian melalui Tekanan Sosial
v Suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok, dengan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut.
v Seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama atau sesuai dengan pandangan kelompoknya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar