Minggu, 03 Mei 2015

KISI-KISI UAS SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015

KISI-KISI UAS GENAP TAHUN AJARAN 2014-2015 (SISWA)
MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X SMAIT UKHUWAH BANJARMASIN

A.    PILIHAN GANDA
NO
KOMPETENSI DASAR
MATERI
1.











2.












3.
Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian









Mendiskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial









Menerapkan aturan-aturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat
1.         Pengetian sosialisasi
2.         Peran nilai dan norma sosial dalam sosialisasi
3.         Tahapan-tahapan perkembangan diri manusia
4.         Tahapan-tahapan diri seseorang yang berkembang melalui interaksi atau bercermin dengan orang lain
5.         Tujuan-tujuan sosialisasi
6.         Faktor-faktor yang membentuk atau menentukan kepribadian seseorang
7.         Agen-agen sosialisasi 
8.         Bentuk-bentuk sosialisasi
9.         Tipe-tipe sosialisasi
10.     Pola-pola sosialisasi
11.     Definisi perilaku menyimpang
12.     Bentuk-bentuk perilaku menyimpang
13.     Tipe atau cara adaptasi individu terhadap situasi tertentu
14.     Hubungan antara perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna
15.     Sifat-sifat perilaku menyimpang
16.     Macam-macam perilaku menyimpang
17.     Tipe atau jenis kejahatan
18.     Jenis-jenis penyimpangan seksual
19.     Sebab-sebab terjadinya penyalahgunaan obat-obatan terlarang pada remaja
20.     Faktor-faktor yang menyebabkan remaja terjerumus pada penggunaan narkotika
21.     Hakikat pengendalian sosial
22.     Pengertian pengendalian sosial
23.     Tujuan pengendalian sosial
24.     Perubahan sosial
25.     Pengendalian melalui institusi dan non institusi
26.     Pengendalian secara lisan, simbolik, dan kekerasan
27.     Pengendalian melalui imbalan dan hukuman (reward and punishment)
28.     Pengendalian secara formal dan informal
29.     Pengendalian melalui sosialisasi
30.     Pengendalian melalui tekanan sosial

B.     ISIAN
NO
KOMPETENSI DASAR
MATERI
1.

2.

3.
Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian
Mendiskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial
Menerapkan aturan-aturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat
1.    Proses sosialisasi
2.    Tindakan-tindakan antisosial
3.    Contoh-contoh tindakan anti sosial
4.    Contoh-contoh tindakan anti sosial
5.    Macam-macam pengendalian sosial

C.     ESAI

NO
KOMPETENSI DASAR
MATERI
1.

2.

3.
Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian
Mendiskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial
Menerapkan aturan-aturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat
1.    Agen-agen sosialisasi
2.    Macam-macam perilaku menyimpang
3.    Sifat-sifat pengendalian sosial
4.    Alat-alat pengendalian sosial
5.    Agen-agen pengendalian sosial

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (5)

Agen-agen sosialisasi  (Fuller dan Jacobs)
1.      Keluarga: pada awal kehidupan seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orangtua dan saudara kandung, kemudian sistem keluarga luas (paman, bibi, kakek, nenek), kemudian sekarang ada pengasuh (baby sitter) dan pekerja pada tempat penitipan anak yang secara status bukan anggota keluarga. Pengaruh orangtua yang sangat dominan tidak jarang dapat menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua terhadap anaknya sendiri (penganiayaan/child abuse dan perkosaan). Sebaliknya perilaku dan sikap anggota keluarga yang cenderung disiplin akan mudah dan menjadikan anak disiplin
2.      Kelompok sebaya atau sepermainan (peer group): setelah anak dapat berjalan, berbicara, bepergian, mulai bertemu dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang biasanya berasal dari keluarga lain. Anak mempelajari berbagai aturan tentang peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat, sehingga mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran, toleransi, dan solidaritas
3.      Sekolah: seseorang akan mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun kelompok sepermainannya. Sekolah mempersiapkan untuk peran-peran baru di masa mendatang saat ia tidak tergantung lagi pada orangtua. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelektual anak, tetapi juga mempengaruhi kemandirian, tanggungjawab dan tata tertib
4.      Media massa: merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar. Penayangan film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku keras, mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak, dan iklan yang ditayangkan mempunyai potensi untuk memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup masyarakat.

Macam-macam perilaku menyimpang
1.    Tindakan kriminal atau kejahatan: umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama yang berlaku di masyarakat
2.    Penyimpangan seksual: perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan
3.    Pemakaian dan pengedaran obat terlarang: merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan norma sosial maupun agama
4.    Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup: yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan eksentrik
        
Sifat Pengendalian Sosial
  1. Pengendalian Preventif
Pengendalian preventif dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran. Dengan demikian, tujuan dari pengendalian preventif adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Contoh tentang pengendalian sosial yang bersifat preventif antara lain adalah: pemberian nasehat yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya agar selalu menjaga tata krama dalam bermasyarakat
  1. Pengendalian Represif
Pengendalian sosial yang bersifat represif adalah pengendalian yang dilaksanakan setelah terjadi pelanggaran terhadap sistem nilai dan sistem norma yang disepakati bersama. Pengendalian represif ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sedia kala sehingga kehidupan menjadi normal kembali. Contoh dari pengendalian sosial yang bersifat represif antara lain adalah: pemberlakuan tilang terhadap pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas; pemberian skorsing kepada pelajar yang berkali-kali melanggar tata tertib sekolah; pemberian vonis hukuman terhadap terdakwa yang terbukti melakukan tindak kriminal.
  1. Pengendalian Gabungan
Pengendalian sosial yang merupakan perpaduan antara preventif dan represif dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penyimpangan dan sekaligus untuk memulihkan kembali agar keadaan kembali normal seperti sedia kala. Contoh dari pengendalian sosial jenis ini adalah operasi yustisi yang digelar kepada seluruh warga masyarakat; pemberian penyuluhan akan pentinganya kepimilikan KTP (preventif), serta pengadaan operasi yustisi untuk menjaring warga yang tidak jelas identitiasnya (represif).
  1. Pengendalian Persuasif
Pengendalian sosial secara persuasif adalah pengendalian yang dilakukan melalui ajakan, himbauan, arahan, dan bimbingan kepada anggota masyarakat untuk melaksanakan hal-hal yang positif. Contoh dari pengendalian sosial secara persuasif ini misalnya adalah himbauan untuk tidak merokok pada ruang-ruang umum. Biasanya kalimat-kalimat yang digunakan sangat halus, seperti tulisan: “Terima Kasih Anda Tidak Merokok di Ruangan Ini”.
  1. Pengendalian Koersif
Pengendalian sosial secara koersif adalah pengendalian yang dilakukan melalui ancaman dan kekerasan. Contohnya pengendalian sosial tentang pembajakan video kaset yang susah dibrantas. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pengendalian kurasif ini biasanya berupa ancaman, seperti: “Dilarang keras mengutip, menjiplak, memfotokopi atau memperbanyak dalam bentuk apapun, baik sebagian atau keseluruhan isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Alat Pengendalian Sosial
  1. Cemoohan atau Ejekan
Masyarakat akan mencemooh atau mengejek individu atau kelompok yang melakukan penyimpangan. Adakalanya cemoohan justru merupakan hukuman yang sangat berat bagi si pelaku penyimpangan, bahkan dapat lebih menyakitkan dibandingkan dengan hukuman fisik. Bisa jadi akibat yang ditimbulkan juga dirasakan oleh keluarga dan kerabat, atau kelompoknya.
  1. Desas-Desus atau Gosip
Desas-desus dapat menyebabkan rasa malu bagi yang digosipkan. Gosip biasanya terjadi karena kritik yang disampaikan tidak dapat dikomunikasikan. Gosip yang benar justru sering mengena, artinya orang yang digosipkan menjadi sadar atas perbuatan menyimpangnya dan kembali kepada nilai-nilai serta norma yang berlaku.
  1. Pendidikan
    Pendidikan, baik yang dilakukan di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat merupakan salah satu cara pengendalian sosial yang telah melembaga di masyarakat. Melalui pendidikan, warga masyarakat dibimbing untuk mematuhi nilai dan norma masyarakat sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.
  2. Ostrasisme
    Ostrasisme menunjuk pada tindakan membiarkan seseorang hidup dan bekerja dalam kelompok itu, tetapi tidak seorang pun berbicara dengannya, bahkan ditegur pun tidak. Orang yang menerima perilaku seperti ini adalah orang-orang yang berperilaku menyimpang dari nilainilai dan norma-norma kelompok atau masyarakat.
  3. Fraudulens
    Fraudulens merupakan bentuk pengendalian sosial yang umumnya terdapat pada anak kecil. Misalnya, jika dua orang anak kecil bertengkar, mereka akan saling mengancam bahwa ia mempunyai kakak yang dapat mengalahkan lawan bertengkarnya. Inilah yang di dalam masyarakat disebut sebagai beking.
  4. Teguran
    Teguran merupakan cara pengendalian sosial melalui perkataan atau tulisan secara langsung. Teguran dilakukan agar pelaku perilaku menyimpang segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki dirinya.
  5. Agama
    Agama memberikan pedoman kepada para pemeluknya tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang dilarang untuk dilakukan. Ajaran agama lebih tertanam pada sanubari setiap pemeluknya sehingga agama merupakan alat pengendalian sosial yang sangat handal. Pelaku penyimpangan akan terbebani oleh perasaan berdosa, dan dosa itu hanya akan terampunkan dengan cara bertobat.
  6. Intimidasi
    Intimidasi merupakan cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan paksaan, biasanya dengan cara mengancam atau menakut-nakuti. Aparat penegak hukum sering menggunakan cara ini untuk mengorek keterangan dari orang yang dimintai keterangannya.
  7. Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku seseorang antara lain memukul, menampar, dan melukai. Kekerasan fisik mencerminkan ketidaksabaran seseorang dalam menangani suatu masalah, termasuk masalah perilaku menyimpang.
  1. Hukum
    Hukum merupakan alat pengendalian sosial yang secara nyata memberikan sanksi terhadap pelaku penyimpangan. Adanya aturan hukum yang jelas dengan sanksi yang tegas, dapat mengendalikan setiap anggota masyarakat terhadap pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.

Agen Pengendalian Sosial
  1. Polisi
    Polisi merupakan aparat negara yang mempunyai tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban tersebut, polisi mengendalikan atau mengawasi perilaku masyarakat agar tidak menyimpang atau melanggar norma-norma hukum yang berlaku. Polisi mempunyai wewenang untuk menangkap dan menahan seseorang yang melanggar hukum.
  2. Pengadilan
    Pengadilan yaitu lembaga milik negara yang mempunyai wewenang untuk mengadili perkara dan menjatuhkan hukuman kepada warga masyarakat yang melanggar hukum. Lembaga pengadilan yang ada di Indonesia, meliputi Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung.
  3. Sekolah
    Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal. Guru berkewajiban mendidik dan mengajar para siswa. Mendidik lebih intensif daripada mengajar. Ketika mendidik para siswa, guru akan menanamkan nilai dan norma sosial yang akan membangun kepribadian para siswa. Hal ini mesti dilakukan agar para siswa bisa menjadi individu beradab.
  4. Keluarga
    Keluarga dapat berperan sebagai pranata pengendalian sosial bagi anak-anak. Peranan keluarga dalam pengendalian sosial sangat besar, sebab lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak-anak untuk belajar hidup sosial, termasuk mengenal nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
  5. Pengadilan Adat
Pengadilan adat merupakan suatu lembaga yang terdapat pada masyarakat yang masih kuat memegang adat-istiadat. Lembaga adat bertugas untuk mengawasi atau mengendalikan warga yang melanggar norma adat. Hukuman bagi para pelanggar norma adat dapat berupa denda atau diusir dari lingkungan masyarakat adat yang bersangkutan.
  1. Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah para pemimpin masyarakat, baik formal maupun informal. Mereka ditokohkan karena memiliki pengaruh atau wibawa atau kharisma di hadapan masyarakatnya. Para tokoh masyarakat dapat melakukan peranan pengendalian sosial terhadap warga masyarakatnya. Misalnya dengan cara mendidik, menasihati, membimbing, membina, menegur, dan sebagainya, agar warga masyarakatnya mematuhi nilai-nilai dan norma yang berlaku.
  1. Media Massa

Media massa efektif juga untuk mengendalikan kehidupan sosial masyarakat. Apalagi media massa memiliki cakupan luas, sehingga dapat mengontrol perilaku para pemimpin dan warga masyarakat. Media massa dapat pula membentuk opini publik sehingga memengaruhi sikap dan pendapat warga masyarakat tentang sesuatu hal.

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (4)

Perlunya sosialisasi dalam kehidupan seseorang sejak lahir sampai meninggal dunia
v Sejak lahir manusia telah mengalami proses sosialisasi. Pada dasarnya tidak ada seorang manusia pun yang tidak melakukan proses sosialisasi dalam hidupnya. Manusia hidup dari dan dalam masyarakat
v Tanpa sosialisasi, kemampuan akal, emosi dan jiwa seseorang tidak dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan masyarakatnya.
                                   
Sikap Antisosial
v Sikap atau perilaku yang tidak mempertimbangkan penilaian dan keberadaan orang lain ataupun masyarakat secara umum di sekitarnya.
v Tindakan-tindakan antisosial sering kali mendatangkan kerugian bagi masyarakat luas, sebab pada dasarnya si pelaku tidak menyukai keteraturan sosial yang diinginkan oleh sebagian besar anggota masyarakat lainnya.

Tipe Tindakan Antisosial
v  Dilakukan di jalan. Contoh: membuang sampah sembarangan, melanggar rambu lalu lintas, meminta-minta dsb
v  Dilakukan oleh tetangga. Contoh: menyetel radio untuk mendengarkan musik dengan terlalu keras
v  Dilakukan terhadap lingkungan sekitar. Contoh: mencorat-coret dan merusak telepon umum atau bis kota atau tembok dan meja kelas

Macam-Macam Pengendalian Sosial
v  Pengendalian melalui Institusi dan Non-Institusi
Institusi: cara pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan keluarga. Non-Institusi: cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada, seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara ini seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.
v  Pengendalian secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
Lisan: cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal). Simbolik: cara pengendalian sosial yang dapat dilakukan melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan masyarakat. Lisan dan Simbolik (sering disebut juga cara pengendalian sosial persuasif): cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Kekerasan (sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif): cara pengendalian sosial yang menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik. Tindakan ini bertujuan agar si pelaku jera dan tidak melalukan perbuatannya lagi. Cara ini sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah cara pengendalian persuasif dilakukan. 
v  Pengendalian melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment)
Imbalan: cara pengendalian sosial ini bersifat preventif (mengalihkan), yaitu seseorang diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku. Hukuman: cara pengendalian sosial ini cenderung bersifat represif, yaitu bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi.
v  Pengendalian secara Formal dan Informal
Formal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat pekerja, atau lembaga peradilan. Informal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Cara pengendalian dalam kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan.
v  Pengendalian melalui Sosialisasi
Agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi.  Dalam hal ini individu yang menjadi anggota masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.  Apabila masing-masing individu memiliki pengalaman yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial, karena melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai sserta akan berperilaku konform (menyesuaikan diri)
v  Pengendalian melalui Tekanan Sosial

Suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok, dengan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut. Seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama atau sesuai dengan pandangan kelompoknya.

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (3)

BAB VI
PENGENDALIAN SOSIAL

Hakikat Pengendalian Sosial
v Perilaku menyimpang seperti tawuran pelajar, hubungan seks pranikah, homoseksual, obat-obatan terlarang dan lain-lain adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, menganggu keteraturan sosial (Social Order).
v Pengendalian sosial terjadi jika ada keserasian antara perubahan dan stabilitas yang ada di dalam masyarakat.

Pengertian Pengendalian Sosial
v  Dalam sebuah masyarakat terdapat norma sosial yang mengatur perilaku anggota masyarakat. Norma sosial ini tumbuh melalui proses sosialisasi. Ada perilaku yang diperbolehkan, ada yang tidak diperbolehkan, ada yang benar, ada yang salah.
v  Masyarakat akan selalu berupaya untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sehingga terwujud keseimbangan sosial. Upaya ini disebut dengan pengendalian sosial
v  Pengendalian sosial adalah upaya untuk mewujudkan kondisi seimbang di dalam masyarakat
v  Pengendalian sosial melalui proses terencana: menganjurkan, membujuk, memaksa untuk menyesuaikan diri
v  Pengendalian sosial melalui cara pemaksaan konformitas: mekanisme desas desus, mengolok-olok, mengucilkan, menyakiti

 Tujuan Pengendalian Sosial
v agar tercipta sebuah keteraturan sosial
v untuk mencapai keserasian antara stabilitas dan perubahan di dalam masyarakat

Perubahan Sosial
v  Perubahan sosial adalah mengubah tatanan sosial yang sudah ada sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sistem sosial.
v  Dekadensi moral yang terjadi berupa seks bebas akibat ditemukannya berbagai alat kontrasepsi. Kaum muda tidak lagi melihat seks sebagai suatu siklus reproduksi manusia yang sakral, tetapi hanya sebagai sebuah rekreasi. Mereka tidak khawatir pada kehamilan di luar nikah karena telah tersedia alat-alat kontrasepsi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi
v  Perubahan sosial seperti ini jelas mengganggu keseimbangan sosial dalam masyarakat yang menjunjung tinggi norma kesusilaaan dan nilai-nilai luhur sebuah perkawinan.

Pengendalian melalui Institusi dan Non-Institusi
v Institusi: cara pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan keluarga.
v Non-Institusi: cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada, seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara ini seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.

Pengendalian secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
v  Lisan: cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal)
v  Simbolik: cara pengendalian sosial yang dapat dilakukan melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan masyarakat.
v  Lisan dan Simbolik (sering disebut juga cara pengendalian sosial persuasif): cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku.
v  Kekerasan (sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif): cara pengendalian sosial yang menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik. Tindakan ini bertujuan agar si pelaku jera dan tidak melalukan perbuatannya lagi. Cara ini sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah cara pengendalian persuasif dilakukan. 

Pengendalian melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment)
v Imbalan: cara pengendalian sosial ini bersifat preventif (mengalihkan), yaitu seseorang diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku.
v Hukuman: cara pengendalian sosial ini cenderung bersifat represif, yaitu bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi.

Pengendalian secara Formal dan Informal
v  Formal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat pekerja, atau lembaga peradilan.
v  Informal: cara pengendalian sosial yang dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Cara pengendalian dalam kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan.

Pengendalian melalui Sosialisasi
v Agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi.
v Dalam hal ini individu yang menjadi anggota masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.
v Apabila masing-masing individu memiliki pengalaman yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial, karena melalui sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai sserta akan berperilaku konform (menyesuaikan diri)

Pengendalian melalui Tekanan Sosial
v Suatu proses yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok, dengan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok tersebut.
v Seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama atau sesuai dengan pandangan kelompoknya.