Agen-agen
sosialisasi (Fuller dan Jacobs)
1.
Keluarga: pada awal kehidupan
seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orangtua dan saudara kandung, kemudian
sistem keluarga luas (paman, bibi, kakek, nenek), kemudian sekarang ada
pengasuh (baby sitter) dan pekerja pada tempat penitipan anak yang secara
status bukan anggota keluarga. Pengaruh orangtua yang sangat dominan tidak
jarang dapat menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua terhadap anaknya
sendiri (penganiayaan/child abuse dan perkosaan). Sebaliknya perilaku dan sikap
anggota keluarga yang cenderung disiplin akan mudah dan menjadikan anak
disiplin
2.
Kelompok sebaya atau sepermainan
(peer group): setelah anak dapat berjalan, berbicara, bepergian, mulai bertemu
dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang biasanya berasal dari keluarga
lain. Anak mempelajari berbagai aturan tentang peranan orang-orang yang
kedudukannya sederajat, sehingga mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran,
toleransi, dan solidaritas
3.
Sekolah: seseorang akan
mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun kelompok
sepermainannya. Sekolah mempersiapkan untuk peran-peran baru di masa mendatang
saat ia tidak tergantung lagi pada orangtua. Sekolah tidak hanya mengajarkan
pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan
intelektual anak, tetapi juga mempengaruhi kemandirian, tanggungjawab dan tata
tertib
4. Media
massa: merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar
orang. Media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena anak-anak lebih
banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang
digunakan untuk belajar. Penayangan film keras dan brutal melalui televisi dapat
menimbulkan perilaku keras, mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak,
dan iklan yang ditayangkan mempunyai potensi untuk memicu perubahan pola
konsumsi atau gaya hidup masyarakat.
Macam-macam perilaku menyimpang
1.
Tindakan kriminal atau kejahatan:
umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama
yang berlaku di masyarakat
2.
Penyimpangan seksual: perilaku
seksual yang tidak lazim dilakukan
3.
Pemakaian dan pengedaran obat
terlarang: merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan norma sosial maupun
agama
4. Penyimpangan
dalam bentuk gaya hidup: yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan
eksentrik
Sifat Pengendalian Sosial
- Pengendalian Preventif
Pengendalian preventif dilakukan sebelum terjadinya
pelanggaran. Dengan demikian, tujuan dari pengendalian preventif adalah untuk
mencegah terjadinya pelanggaran terhadap sistem nilai dan sistem norma yang
berlaku dalam kehidupan masyarakat. Contoh tentang pengendalian sosial yang
bersifat preventif antara lain adalah: pemberian nasehat yang dilakukan oleh
orang tua kepada anaknya agar selalu menjaga tata krama dalam bermasyarakat
- Pengendalian Represif
Pengendalian sosial yang bersifat represif adalah
pengendalian yang dilaksanakan setelah terjadi pelanggaran terhadap sistem
nilai dan sistem norma yang disepakati bersama. Pengendalian represif ini
bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sedia kala sehingga kehidupan
menjadi normal kembali. Contoh dari pengendalian sosial yang bersifat represif
antara lain adalah: pemberlakuan tilang terhadap pengendara yang melanggar
peraturan lalu lintas; pemberian skorsing kepada pelajar yang berkali-kali
melanggar tata tertib sekolah; pemberian vonis hukuman terhadap terdakwa yang
terbukti melakukan tindak kriminal.
- Pengendalian Gabungan
Pengendalian sosial yang merupakan perpaduan antara
preventif dan represif dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penyimpangan
dan sekaligus untuk memulihkan kembali agar keadaan kembali normal seperti
sedia kala. Contoh dari pengendalian sosial jenis ini adalah operasi yustisi
yang digelar kepada seluruh warga masyarakat; pemberian penyuluhan akan
pentinganya kepimilikan KTP (preventif), serta pengadaan operasi yustisi untuk
menjaring warga yang tidak jelas identitiasnya (represif).
- Pengendalian Persuasif
Pengendalian sosial secara persuasif adalah pengendalian
yang dilakukan melalui ajakan, himbauan, arahan, dan bimbingan kepada anggota
masyarakat untuk melaksanakan hal-hal yang positif. Contoh dari pengendalian
sosial secara persuasif ini misalnya adalah himbauan untuk tidak merokok pada
ruang-ruang umum. Biasanya kalimat-kalimat yang digunakan sangat halus, seperti
tulisan: “Terima Kasih Anda Tidak Merokok di Ruangan Ini”.
- Pengendalian Koersif
Pengendalian sosial secara koersif adalah pengendalian yang
dilakukan melalui ancaman dan kekerasan. Contohnya pengendalian sosial tentang
pembajakan video kaset yang susah dibrantas. Kalimat-kalimat yang digunakan
dalam pengendalian kurasif ini biasanya berupa ancaman, seperti: “Dilarang keras
mengutip, menjiplak, memfotokopi atau memperbanyak dalam bentuk apapun, baik
sebagian atau keseluruhan isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.
Alat Pengendalian Sosial
- Cemoohan atau Ejekan
Masyarakat akan mencemooh atau mengejek individu atau
kelompok yang melakukan penyimpangan. Adakalanya cemoohan justru merupakan
hukuman yang sangat berat bagi si pelaku penyimpangan, bahkan dapat lebih
menyakitkan dibandingkan dengan hukuman fisik. Bisa jadi akibat yang
ditimbulkan juga dirasakan oleh keluarga dan kerabat, atau kelompoknya.
- Desas-Desus atau Gosip
Desas-desus dapat menyebabkan rasa malu bagi yang
digosipkan. Gosip biasanya terjadi karena kritik yang disampaikan tidak dapat
dikomunikasikan. Gosip yang benar justru sering mengena, artinya orang yang
digosipkan menjadi sadar atas perbuatan menyimpangnya dan kembali kepada
nilai-nilai serta norma yang berlaku.
- Pendidikan
Pendidikan, baik yang dilakukan di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat merupakan salah satu cara pengendalian sosial yang telah melembaga di masyarakat. Melalui pendidikan, warga masyarakat dibimbing untuk mematuhi nilai dan norma masyarakat sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang. - Ostrasisme
Ostrasisme menunjuk pada tindakan membiarkan seseorang hidup dan bekerja dalam kelompok itu, tetapi tidak seorang pun berbicara dengannya, bahkan ditegur pun tidak. Orang yang menerima perilaku seperti ini adalah orang-orang yang berperilaku menyimpang dari nilainilai dan norma-norma kelompok atau masyarakat. - Fraudulens
Fraudulens merupakan bentuk pengendalian sosial yang umumnya terdapat pada anak kecil. Misalnya, jika dua orang anak kecil bertengkar, mereka akan saling mengancam bahwa ia mempunyai kakak yang dapat mengalahkan lawan bertengkarnya. Inilah yang di dalam masyarakat disebut sebagai beking. - Teguran
Teguran merupakan cara pengendalian sosial melalui perkataan atau tulisan secara langsung. Teguran dilakukan agar pelaku perilaku menyimpang segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki dirinya. - Agama
Agama memberikan pedoman kepada para pemeluknya tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang dilarang untuk dilakukan. Ajaran agama lebih tertanam pada sanubari setiap pemeluknya sehingga agama merupakan alat pengendalian sosial yang sangat handal. Pelaku penyimpangan akan terbebani oleh perasaan berdosa, dan dosa itu hanya akan terampunkan dengan cara bertobat. - Intimidasi
Intimidasi merupakan cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan paksaan, biasanya dengan cara mengancam atau menakut-nakuti. Aparat penegak hukum sering menggunakan cara ini untuk mengorek keterangan dari orang yang dimintai keterangannya. - Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku
seseorang antara lain memukul, menampar, dan melukai. Kekerasan fisik
mencerminkan ketidaksabaran seseorang dalam menangani suatu masalah, termasuk
masalah perilaku menyimpang.
- Hukum
Hukum merupakan alat pengendalian sosial yang secara nyata memberikan sanksi terhadap pelaku penyimpangan. Adanya aturan hukum yang jelas dengan sanksi yang tegas, dapat mengendalikan setiap anggota masyarakat terhadap pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
Agen Pengendalian Sosial
- Polisi
Polisi merupakan aparat negara yang mempunyai tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban tersebut, polisi mengendalikan atau mengawasi perilaku masyarakat agar tidak menyimpang atau melanggar norma-norma hukum yang berlaku. Polisi mempunyai wewenang untuk menangkap dan menahan seseorang yang melanggar hukum. - Pengadilan
Pengadilan yaitu lembaga milik negara yang mempunyai wewenang untuk mengadili perkara dan menjatuhkan hukuman kepada warga masyarakat yang melanggar hukum. Lembaga pengadilan yang ada di Indonesia, meliputi Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung. - Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal. Guru berkewajiban mendidik dan mengajar para siswa. Mendidik lebih intensif daripada mengajar. Ketika mendidik para siswa, guru akan menanamkan nilai dan norma sosial yang akan membangun kepribadian para siswa. Hal ini mesti dilakukan agar para siswa bisa menjadi individu beradab. - Keluarga
Keluarga dapat berperan sebagai pranata pengendalian sosial bagi anak-anak. Peranan keluarga dalam pengendalian sosial sangat besar, sebab lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak-anak untuk belajar hidup sosial, termasuk mengenal nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. - Pengadilan Adat
Pengadilan adat merupakan suatu lembaga yang terdapat pada
masyarakat yang masih kuat memegang adat-istiadat. Lembaga adat bertugas untuk
mengawasi atau mengendalikan warga yang melanggar norma adat. Hukuman bagi para
pelanggar norma adat dapat berupa denda atau diusir dari lingkungan masyarakat
adat yang bersangkutan.
- Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah para pemimpin masyarakat, baik
formal maupun informal. Mereka ditokohkan karena memiliki pengaruh atau wibawa
atau kharisma di hadapan masyarakatnya. Para tokoh masyarakat dapat melakukan
peranan pengendalian sosial terhadap warga masyarakatnya. Misalnya dengan cara
mendidik, menasihati, membimbing, membina, menegur, dan sebagainya, agar warga
masyarakatnya mematuhi nilai-nilai dan norma yang berlaku.
- Media Massa
Media massa efektif juga untuk mengendalikan kehidupan
sosial masyarakat. Apalagi media massa memiliki cakupan luas, sehingga dapat
mengontrol perilaku para pemimpin dan warga masyarakat. Media massa dapat pula
membentuk opini publik sehingga memengaruhi sikap dan pendapat warga masyarakat
tentang sesuatu hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar