Perlunya
sosialisasi dalam kehidupan seseorang sejak lahir sampai meninggal dunia
v Sejak
lahir manusia telah mengalami proses sosialisasi. Pada dasarnya tidak ada
seorang manusia pun yang tidak melakukan proses sosialisasi dalam hidupnya.
Manusia hidup dari dan dalam masyarakat
v Tanpa
sosialisasi, kemampuan akal, emosi dan jiwa seseorang tidak dapat berkembang
sesuai dengan yang diharapkan masyarakatnya.
Sikap Antisosial
v Sikap
atau perilaku yang tidak mempertimbangkan penilaian dan keberadaan orang lain
ataupun masyarakat secara umum di sekitarnya.
v Tindakan-tindakan
antisosial sering kali mendatangkan kerugian bagi masyarakat luas, sebab pada
dasarnya si pelaku tidak menyukai keteraturan sosial yang diinginkan oleh
sebagian besar anggota masyarakat lainnya.
Tipe Tindakan Antisosial
v Dilakukan
di jalan. Contoh: membuang sampah sembarangan, melanggar rambu lalu lintas,
meminta-minta dsb
v Dilakukan
oleh tetangga. Contoh: menyetel radio untuk mendengarkan musik dengan terlalu
keras
v Dilakukan
terhadap lingkungan sekitar. Contoh: mencorat-coret dan merusak telepon umum
atau bis kota atau tembok dan meja kelas
Macam-Macam Pengendalian Sosial
v Pengendalian
melalui Institusi dan Non-Institusi
Institusi: cara
pengendalian sosial melalui lembaga-lembaga sosial yang ada di dalam
masyarakat, seperti lembaga pendidikan, hukum, agama, politik, ekonomi, dan
keluarga. Non-Institusi: cara pengendalian di luar institusi sosial yang ada,
seperti oleh individu atau kelompok massa yang tidak saling mengenal. Cara ini
seringkali menggunakan kekerasan dan sifatnya tidak resmi.
v Pengendalian
secara Lisan, Simbolik, dan Kekerasan
Lisan: cara
pengendalian sosial yang dilakukan dengan mengajak orang menaati aturan dengan
berbicara langsung dengan bahasa lisan (verbal). Simbolik: cara pengendalian
sosial yang dapat dilakukan melalui tulisan, spanduk, dan iklan layanan
masyarakat. Lisan dan Simbolik (sering disebut juga cara pengendalian sosial
persuasif): cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing
anggota masyarakat agar dapat bertindak sesuai dengan aturan-aturan yang
berlaku. Kekerasan (sering disebut juga cara pengendalian sosial koersif): cara
pengendalian sosial yang menekankan pada tindakan atau ancaman yang menggunakan
kekuatan fisik. Tindakan ini bertujuan agar si pelaku jera dan tidak melalukan
perbuatannya lagi. Cara ini sebaiknya dilakukan sebagai upaya terakhir sesudah
cara pengendalian persuasif dilakukan.
v Pengendalian
melalui Imbalan dan Hukuman (Reward and Punishment)
Imbalan: cara
pengendalian sosial ini bersifat preventif (mengalihkan), yaitu seseorang
diberi imbalan atas tindakannya agar ia berperilaku sesuai dengan nilai dan
norma sosial yang berlaku. Hukuman: cara pengendalian sosial ini cenderung
bersifat represif, yaitu bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sebelum
pelanggaran terjadi.
v Pengendalian
secara Formal dan Informal
Formal: cara
pengendalian sosial yang dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang juga
memiliki peraturan-peraturan resmi, seperti perusahaan, perkumpulan serikat
pekerja, atau lembaga peradilan. Informal: cara pengendalian sosial yang
dilakukan oleh kelompok yang kecil, akrab, bersifat tidak resmi, dan tidak
mempunyai aturan-aturan resmi yang tertulis. Cara pengendalian dalam
kelompok-kelompok ini cenderung spontan atau tidak direncanakan.
v Pengendalian
melalui Sosialisasi
Agar masyarakat
berperilaku sesuai dengan nilai dan norma (konform), diperlukan proses
penanaman nilai dan norma yang disebut sosialisasi. Dalam hal ini individu yang menjadi anggota
masyarakat dikendalikan sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang. Apabila masing-masing individu memiliki
pengalaman yang sama, maka mereka akan suka rela dan tanpa berpikir panjang
lagi akan berperilaku sesuai dengan harapan-harapan sosial, karena melalui
sosialisasi seseorang menginternalisasikan norma dan nilai sserta akan
berperilaku konform (menyesuaikan diri)
v Pengendalian
melalui Tekanan Sosial
Suatu proses
yang lahir dari kebutuhan individu agar diterima ke dalam suatu kelompok,
dengan selalu berusaha mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam kelompok
tersebut. Seseorang cenderung mengekspresikan pernyataan pribadinya seirama
atau sesuai dengan pandangan kelompoknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar