PENGALAMAN BERPUASA (Dimuat di Republika edisi Ramadhan 1434 H)
Puasaku Lebih Bermakna dan Luar Biasa
dengan Ikut I’tikaf dan Sahur Bersama
Muhammad Rafi’ul Khair - 8 tahun
(Siswa Kelas 2A SDIT Ukhuwah Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
Teman-teman,
perkenalkan namaku Muhammad Rafi’ul Khair atau biasa dipanggil Rafi,
sekarang aku juga bisa dipanggil Kaka karena beberapa bulan yang lalu
aku mempunyai seorang adik perempuan bernama Nada ‘Aqilah. Aku saat ini
berusia 8 tahun dan baru saja naik ke kelas II di SDIT Ukhuwah
Banjarmasin.
Bulan Ramadhan tahun ini merupakan tahun keempat
aku melaksanakan puasa Ramadhan. Aku berhasil puasa Ramadhan sebulan
penuh mulai kelas B di TKIT dan kelas I SDIT Ukhuwah tahun lalu,
sebelumnya saat kelas A TKIT 3 tahun yang lalu aku juga sudah berhasil
puasa selama 29 hari.
Rafi saat ini tinggal di daerah Gambut
sekitar 14 km dari kota Banjarmasin, aku tinggal bersama kedua
orangtuaku Khairani, S.Pd.I dan Rafi’ah Hidayati, S.Th.I. Aku ingin
menceritakan pengalaman yang sangat berkesan bagiku saat puasa Ramadhan
tahun lalu dan di awal Ramadhan tahun ini. Begini ceritanya...
Tahun
lalu lalu aku menjalani ibadah puasa Ramadhan yang lain dari tahun
sebelumnya. Selain menahan diri dari haus dan lapar yang aku alami saat
duduk di TK, tahun lalu aku juga sudah terbiasa setiap malam sholat
tarawih di mushalla pesantren dekat rumahku. Selain itu kami juga tetap
masuk sekolah walau masih SD kelas 1 karena selama 2 minggu ada kegiatan
Ramadhan di sekolah, walau lumayan capek dan melelahkan, namun aku
tetap bisa bertahan dengan puasa yang tengah aku lakukan.
Suatu
pengalaman luar biasa dan baru pertama aku alami tahun lalu di bulan
Ramadhan adalah ketika aku menawarkan diri untuk ikut ayahku mengikuti
kegiatan i’tikaf Ramadhan di masjid sekolahku pada 10 hari terakhir
bulan Ramadhan. Alhamdulillah aku bisa mengikutinya dan senang bisa ikut
i’tikaf, sholat, tidur, buka puasa, sahur, tarawih, qiyamul lail dan
mendengarkan ceramah-ceramah di masjid seperti orang-orang tua dan
dewasa yang ikut kegiatan tersebut. Dan ternyata aku bisa mengikutinya
selama 3 hari.
Teman-teman, mohon doanya Insya Allah 10 hari
terakhir bulan Ramadhan tahun ini, aku sudah berniat dan memberitahu
ayahku untuk ikut kembali kegiatan i’tikaf yang kembali dilaksanakan di
masjid sekolahku pada tahun ini. Saat menuliskan pengalaman luar biasa
bagi anak seusiaku saat ini, aku baru saja mengikuti kegiatan i’tikaf
atau mabit 1 malam di masjid sekolah bersama kakak-kakak siswa SMAIT
Ukhuwah serta ayahku yang merupakan kepala sekolah SMAIT tersebut.
Minggu lalu aku juga berhasil ikut bermalam atau mabit di masjid sekolah
bersama kakak-kakak siswa SMAIT Ukhuwah pada hari terakhir kegiatan MOS
sekolah mereka.
Aku yakin tahun ini aku kembali bisa i’tikaf
minimal 3 hari lagi seperti tahun lalu sebelum aku pulang kampung untuk
berlebaran di rumah kakek nenekku di daerah Barabai. Apalagi tahun ini
aku sudah cukup lancar membaca Al Qur’an karena sudah jilid 6 buku
metode Ummi di sekolahku. Demikian pengalamanku, semoga kalian semua
juga bisa melakukannya.
Sabtu, 05 September 2015
SEKOLAH RAMAH ANAK (Dari Harapan Menuju Kenyataan) - 1
INDIKATOR SEKOLAH RAMAH
ANAK
1.
Kebijakan SRA
a.
Memenuhi Standar
Pelayanan Minimal di Satuan Pendidikan;
b. Memiliki kebijakan anti
kekerasan (sesama siswa, tenaga pendidik dan kependidikan, termasuk pegawai
sekolah lainnya);
c.
Kode Etik
Penyelenggaraan Satuan Pendidikan;
d.
Penegakan Disiplin
dengan Non Kekerasan.
2.
Program dan Fasilitas Kesehatan di Satuan Pendidikan
a.
Memiliki program Usaha
Kesehatan Sekolah (UKS)
b. Memiliki toilet dan
kamar mandi siswa yang memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan, kemudahan
termasuk kelayakan bagi anak yang mengalami disabilitas, kenyamanan, dan
keamanan, serta terpisah antara peserta didik laki-laki dan perempuan (terdapat
kotak sampah/tempat pembuangan pembalut, tersedia pembalut wanita) dengan air
yang bersih dan cukup.
c.
Menerapkan Perilaku
Hidup Bersih Sehat (PHBS).
d.
Sekolah Adiwiyata.
e.
Kantin Sehat.
3. Lingkungan dan
infrastruktur yang aman, nyaman, sehat, dan bersih, serta aksesibel yang
memenuhi SNI konstruksi dan bangunan.
4.
Partisipasi Anak dengan mekanisme yang jelas dan terlindungi:
a.
Perencanaan
b.
Kebijakan dan tata
tertib
c.
Pembelajaran
d.
Pengaduan
e.
Pemantauan dan evaluasi
5. Penanaman
Nilai-Nilai Luhur dan Seni budaya dengan menghargai keanekaragaman.
6. Pendidik
dan Tenaga Kependidikan terlatih KHA.
7. Program
Keselamatan dari rumah dan/atau di Satuan Pendidikan.
8. Peran
Serta Masyarakat dan Dunia Usaha di Satuan Pendidikan.
Langganan:
Postingan (Atom)