Sabtu, 05 September 2015

PENGALAMAN BERPUASA

PENGALAMAN BERPUASA (Dimuat di Republika edisi Ramadhan 1434 H)

Puasaku Lebih Bermakna dan Luar Biasa
dengan Ikut I’tikaf dan Sahur Bersama

Muhammad Rafi’ul Khair - 8 tahun
(Siswa Kelas 2A SDIT Ukhuwah Banjarmasin, Kalimantan Selatan)

Teman-teman, perkenalkan namaku Muhammad Rafi’ul Khair atau biasa dipanggil Rafi, sekarang aku juga bisa dipanggil Kaka karena beberapa bulan yang lalu aku mempunyai seorang adik perempuan bernama Nada ‘Aqilah. Aku saat ini berusia 8 tahun dan baru saja naik ke kelas II di SDIT Ukhuwah Banjarmasin.

Bulan Ramadhan tahun ini merupakan tahun keempat aku melaksanakan puasa Ramadhan. Aku berhasil puasa Ramadhan sebulan penuh mulai kelas B di TKIT dan kelas I SDIT Ukhuwah tahun lalu, sebelumnya saat kelas A TKIT 3 tahun yang lalu aku juga sudah berhasil puasa selama 29 hari.

Rafi saat ini tinggal di daerah Gambut sekitar 14 km dari kota Banjarmasin, aku tinggal bersama kedua orangtuaku Khairani, S.Pd.I dan Rafi’ah Hidayati, S.Th.I. Aku ingin menceritakan pengalaman yang sangat berkesan bagiku saat puasa Ramadhan tahun lalu dan di awal Ramadhan tahun ini. Begini ceritanya...

Tahun lalu lalu aku menjalani ibadah puasa Ramadhan yang lain dari tahun sebelumnya. Selain menahan diri dari haus dan lapar yang aku alami saat duduk di TK, tahun lalu aku juga sudah terbiasa setiap malam sholat tarawih di mushalla pesantren dekat rumahku. Selain itu kami juga tetap masuk sekolah walau masih SD kelas 1 karena selama 2 minggu ada kegiatan Ramadhan di sekolah, walau lumayan capek dan melelahkan, namun aku tetap bisa bertahan dengan puasa yang tengah aku lakukan.

Suatu pengalaman luar biasa dan baru pertama aku alami tahun lalu di bulan Ramadhan adalah ketika aku menawarkan diri untuk ikut ayahku mengikuti kegiatan i’tikaf Ramadhan di masjid sekolahku pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Alhamdulillah aku bisa mengikutinya dan senang bisa ikut i’tikaf, sholat, tidur, buka puasa, sahur, tarawih, qiyamul lail dan mendengarkan ceramah-ceramah di masjid seperti orang-orang tua dan dewasa yang ikut kegiatan tersebut. Dan ternyata aku bisa mengikutinya selama 3 hari.

Teman-teman, mohon doanya Insya Allah 10 hari terakhir bulan Ramadhan tahun ini, aku sudah berniat dan memberitahu ayahku untuk ikut kembali kegiatan i’tikaf yang kembali dilaksanakan di masjid sekolahku pada tahun ini. Saat menuliskan pengalaman luar biasa bagi anak seusiaku saat ini, aku baru saja mengikuti kegiatan i’tikaf atau mabit 1 malam di masjid sekolah bersama kakak-kakak siswa SMAIT Ukhuwah serta ayahku yang merupakan kepala sekolah SMAIT tersebut. Minggu lalu aku juga berhasil ikut bermalam atau mabit di masjid sekolah bersama kakak-kakak siswa SMAIT Ukhuwah pada hari terakhir kegiatan MOS sekolah mereka.

Aku yakin tahun ini aku kembali bisa i’tikaf minimal 3 hari lagi seperti tahun lalu sebelum aku pulang kampung untuk berlebaran di rumah kakek nenekku di daerah Barabai. Apalagi tahun ini aku sudah cukup lancar membaca Al Qur’an karena sudah jilid 6 buku metode Ummi di sekolahku. Demikian pengalamanku, semoga kalian semua juga bisa melakukannya.

SEKOLAH RAMAH ANAK (Dari Harapan Menuju Kenyataan) - 1



INDIKATOR SEKOLAH RAMAH ANAK

1.       Kebijakan SRA
a.      Memenuhi Standar Pelayanan Minimal di Satuan Pendidikan;
b. Memiliki kebijakan anti kekerasan (sesama siswa, tenaga pendidik dan kependidikan, termasuk pegawai sekolah lainnya);
c.       Kode Etik Penyelenggaraan Satuan Pendidikan;
d.      Penegakan Disiplin dengan Non Kekerasan.

2.      Program dan Fasilitas Kesehatan di Satuan Pendidikan
a.      Memiliki program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
b.     Memiliki toilet dan kamar mandi siswa yang memenuhi persyaratan kesehatan, keselamatan, kemudahan termasuk kelayakan bagi anak yang mengalami disabilitas, kenyamanan, dan keamanan, serta terpisah antara peserta didik laki-laki dan perempuan (terdapat kotak sampah/tempat pembuangan pembalut, tersedia pembalut wanita) dengan air yang bersih dan cukup.
c.       Menerapkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS).
d.      Sekolah Adiwiyata.
e.      Kantin Sehat.

3. Lingkungan dan infrastruktur yang aman, nyaman, sehat, dan bersih, serta aksesibel yang memenuhi SNI konstruksi dan bangunan.

4.      Partisipasi Anak dengan mekanisme yang jelas dan terlindungi:
a.      Perencanaan
b.      Kebijakan dan tata tertib
c.       Pembelajaran
d.      Pengaduan
e.      Pemantauan dan evaluasi

5. Penanaman Nilai-Nilai Luhur dan Seni budaya dengan menghargai keanekaragaman.

6.      Pendidik dan Tenaga Kependidikan terlatih KHA.

7.      Program Keselamatan dari rumah dan/atau di Satuan Pendidikan.

8.     Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha di Satuan Pendidikan.

Minggu, 03 Mei 2015

KISI-KISI UAS SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015

KISI-KISI UAS GENAP TAHUN AJARAN 2014-2015 (SISWA)
MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS X SMAIT UKHUWAH BANJARMASIN

A.    PILIHAN GANDA
NO
KOMPETENSI DASAR
MATERI
1.











2.












3.
Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian









Mendiskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial









Menerapkan aturan-aturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat
1.         Pengetian sosialisasi
2.         Peran nilai dan norma sosial dalam sosialisasi
3.         Tahapan-tahapan perkembangan diri manusia
4.         Tahapan-tahapan diri seseorang yang berkembang melalui interaksi atau bercermin dengan orang lain
5.         Tujuan-tujuan sosialisasi
6.         Faktor-faktor yang membentuk atau menentukan kepribadian seseorang
7.         Agen-agen sosialisasi 
8.         Bentuk-bentuk sosialisasi
9.         Tipe-tipe sosialisasi
10.     Pola-pola sosialisasi
11.     Definisi perilaku menyimpang
12.     Bentuk-bentuk perilaku menyimpang
13.     Tipe atau cara adaptasi individu terhadap situasi tertentu
14.     Hubungan antara perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna
15.     Sifat-sifat perilaku menyimpang
16.     Macam-macam perilaku menyimpang
17.     Tipe atau jenis kejahatan
18.     Jenis-jenis penyimpangan seksual
19.     Sebab-sebab terjadinya penyalahgunaan obat-obatan terlarang pada remaja
20.     Faktor-faktor yang menyebabkan remaja terjerumus pada penggunaan narkotika
21.     Hakikat pengendalian sosial
22.     Pengertian pengendalian sosial
23.     Tujuan pengendalian sosial
24.     Perubahan sosial
25.     Pengendalian melalui institusi dan non institusi
26.     Pengendalian secara lisan, simbolik, dan kekerasan
27.     Pengendalian melalui imbalan dan hukuman (reward and punishment)
28.     Pengendalian secara formal dan informal
29.     Pengendalian melalui sosialisasi
30.     Pengendalian melalui tekanan sosial

B.     ISIAN
NO
KOMPETENSI DASAR
MATERI
1.

2.

3.
Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian
Mendiskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial
Menerapkan aturan-aturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat
1.    Proses sosialisasi
2.    Tindakan-tindakan antisosial
3.    Contoh-contoh tindakan anti sosial
4.    Contoh-contoh tindakan anti sosial
5.    Macam-macam pengendalian sosial

C.     ESAI

NO
KOMPETENSI DASAR
MATERI
1.

2.

3.
Menjelaskan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian
Mendiskripsikan terjadinya perilaku menyimpang dan sikap-sikap anti sosial
Menerapkan aturan-aturan sosial dalam kehidupan bermasyarakat
1.    Agen-agen sosialisasi
2.    Macam-macam perilaku menyimpang
3.    Sifat-sifat pengendalian sosial
4.    Alat-alat pengendalian sosial
5.    Agen-agen pengendalian sosial

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (5)

Agen-agen sosialisasi  (Fuller dan Jacobs)
1.      Keluarga: pada awal kehidupan seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orangtua dan saudara kandung, kemudian sistem keluarga luas (paman, bibi, kakek, nenek), kemudian sekarang ada pengasuh (baby sitter) dan pekerja pada tempat penitipan anak yang secara status bukan anggota keluarga. Pengaruh orangtua yang sangat dominan tidak jarang dapat menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua terhadap anaknya sendiri (penganiayaan/child abuse dan perkosaan). Sebaliknya perilaku dan sikap anggota keluarga yang cenderung disiplin akan mudah dan menjadikan anak disiplin
2.      Kelompok sebaya atau sepermainan (peer group): setelah anak dapat berjalan, berbicara, bepergian, mulai bertemu dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang biasanya berasal dari keluarga lain. Anak mempelajari berbagai aturan tentang peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat, sehingga mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran, toleransi, dan solidaritas
3.      Sekolah: seseorang akan mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun kelompok sepermainannya. Sekolah mempersiapkan untuk peran-peran baru di masa mendatang saat ia tidak tergantung lagi pada orangtua. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelektual anak, tetapi juga mempengaruhi kemandirian, tanggungjawab dan tata tertib
4.      Media massa: merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar. Penayangan film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku keras, mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak, dan iklan yang ditayangkan mempunyai potensi untuk memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup masyarakat.

Macam-macam perilaku menyimpang
1.    Tindakan kriminal atau kejahatan: umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma sosial, dan norma agama yang berlaku di masyarakat
2.    Penyimpangan seksual: perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan
3.    Pemakaian dan pengedaran obat terlarang: merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan norma sosial maupun agama
4.    Penyimpangan dalam bentuk gaya hidup: yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan eksentrik
        
Sifat Pengendalian Sosial
  1. Pengendalian Preventif
Pengendalian preventif dilakukan sebelum terjadinya pelanggaran. Dengan demikian, tujuan dari pengendalian preventif adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap sistem nilai dan sistem norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Contoh tentang pengendalian sosial yang bersifat preventif antara lain adalah: pemberian nasehat yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya agar selalu menjaga tata krama dalam bermasyarakat
  1. Pengendalian Represif
Pengendalian sosial yang bersifat represif adalah pengendalian yang dilaksanakan setelah terjadi pelanggaran terhadap sistem nilai dan sistem norma yang disepakati bersama. Pengendalian represif ini bertujuan untuk memulihkan keadaan seperti sedia kala sehingga kehidupan menjadi normal kembali. Contoh dari pengendalian sosial yang bersifat represif antara lain adalah: pemberlakuan tilang terhadap pengendara yang melanggar peraturan lalu lintas; pemberian skorsing kepada pelajar yang berkali-kali melanggar tata tertib sekolah; pemberian vonis hukuman terhadap terdakwa yang terbukti melakukan tindak kriminal.
  1. Pengendalian Gabungan
Pengendalian sosial yang merupakan perpaduan antara preventif dan represif dilakukan untuk mencegah agar tidak terjadi penyimpangan dan sekaligus untuk memulihkan kembali agar keadaan kembali normal seperti sedia kala. Contoh dari pengendalian sosial jenis ini adalah operasi yustisi yang digelar kepada seluruh warga masyarakat; pemberian penyuluhan akan pentinganya kepimilikan KTP (preventif), serta pengadaan operasi yustisi untuk menjaring warga yang tidak jelas identitiasnya (represif).
  1. Pengendalian Persuasif
Pengendalian sosial secara persuasif adalah pengendalian yang dilakukan melalui ajakan, himbauan, arahan, dan bimbingan kepada anggota masyarakat untuk melaksanakan hal-hal yang positif. Contoh dari pengendalian sosial secara persuasif ini misalnya adalah himbauan untuk tidak merokok pada ruang-ruang umum. Biasanya kalimat-kalimat yang digunakan sangat halus, seperti tulisan: “Terima Kasih Anda Tidak Merokok di Ruangan Ini”.
  1. Pengendalian Koersif
Pengendalian sosial secara koersif adalah pengendalian yang dilakukan melalui ancaman dan kekerasan. Contohnya pengendalian sosial tentang pembajakan video kaset yang susah dibrantas. Kalimat-kalimat yang digunakan dalam pengendalian kurasif ini biasanya berupa ancaman, seperti: “Dilarang keras mengutip, menjiplak, memfotokopi atau memperbanyak dalam bentuk apapun, baik sebagian atau keseluruhan isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit.

Alat Pengendalian Sosial
  1. Cemoohan atau Ejekan
Masyarakat akan mencemooh atau mengejek individu atau kelompok yang melakukan penyimpangan. Adakalanya cemoohan justru merupakan hukuman yang sangat berat bagi si pelaku penyimpangan, bahkan dapat lebih menyakitkan dibandingkan dengan hukuman fisik. Bisa jadi akibat yang ditimbulkan juga dirasakan oleh keluarga dan kerabat, atau kelompoknya.
  1. Desas-Desus atau Gosip
Desas-desus dapat menyebabkan rasa malu bagi yang digosipkan. Gosip biasanya terjadi karena kritik yang disampaikan tidak dapat dikomunikasikan. Gosip yang benar justru sering mengena, artinya orang yang digosipkan menjadi sadar atas perbuatan menyimpangnya dan kembali kepada nilai-nilai serta norma yang berlaku.
  1. Pendidikan
    Pendidikan, baik yang dilakukan di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat merupakan salah satu cara pengendalian sosial yang telah melembaga di masyarakat. Melalui pendidikan, warga masyarakat dibimbing untuk mematuhi nilai dan norma masyarakat sehingga tidak melakukan perilaku menyimpang.
  2. Ostrasisme
    Ostrasisme menunjuk pada tindakan membiarkan seseorang hidup dan bekerja dalam kelompok itu, tetapi tidak seorang pun berbicara dengannya, bahkan ditegur pun tidak. Orang yang menerima perilaku seperti ini adalah orang-orang yang berperilaku menyimpang dari nilainilai dan norma-norma kelompok atau masyarakat.
  3. Fraudulens
    Fraudulens merupakan bentuk pengendalian sosial yang umumnya terdapat pada anak kecil. Misalnya, jika dua orang anak kecil bertengkar, mereka akan saling mengancam bahwa ia mempunyai kakak yang dapat mengalahkan lawan bertengkarnya. Inilah yang di dalam masyarakat disebut sebagai beking.
  4. Teguran
    Teguran merupakan cara pengendalian sosial melalui perkataan atau tulisan secara langsung. Teguran dilakukan agar pelaku perilaku menyimpang segera menyadari kekeliruannya dan memperbaiki dirinya.
  5. Agama
    Agama memberikan pedoman kepada para pemeluknya tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang dilarang untuk dilakukan. Ajaran agama lebih tertanam pada sanubari setiap pemeluknya sehingga agama merupakan alat pengendalian sosial yang sangat handal. Pelaku penyimpangan akan terbebani oleh perasaan berdosa, dan dosa itu hanya akan terampunkan dengan cara bertobat.
  6. Intimidasi
    Intimidasi merupakan cara pengendalian sosial yang dilakukan dengan paksaan, biasanya dengan cara mengancam atau menakut-nakuti. Aparat penegak hukum sering menggunakan cara ini untuk mengorek keterangan dari orang yang dimintai keterangannya.
  7. Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik yang digunakan untuk mengendalikan perilaku seseorang antara lain memukul, menampar, dan melukai. Kekerasan fisik mencerminkan ketidaksabaran seseorang dalam menangani suatu masalah, termasuk masalah perilaku menyimpang.
  1. Hukum
    Hukum merupakan alat pengendalian sosial yang secara nyata memberikan sanksi terhadap pelaku penyimpangan. Adanya aturan hukum yang jelas dengan sanksi yang tegas, dapat mengendalikan setiap anggota masyarakat terhadap pelanggaran nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.

Agen Pengendalian Sosial
  1. Polisi
    Polisi merupakan aparat negara yang mempunyai tugas utama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban tersebut, polisi mengendalikan atau mengawasi perilaku masyarakat agar tidak menyimpang atau melanggar norma-norma hukum yang berlaku. Polisi mempunyai wewenang untuk menangkap dan menahan seseorang yang melanggar hukum.
  2. Pengadilan
    Pengadilan yaitu lembaga milik negara yang mempunyai wewenang untuk mengadili perkara dan menjatuhkan hukuman kepada warga masyarakat yang melanggar hukum. Lembaga pengadilan yang ada di Indonesia, meliputi Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Militer, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung.
  3. Sekolah
    Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal. Guru berkewajiban mendidik dan mengajar para siswa. Mendidik lebih intensif daripada mengajar. Ketika mendidik para siswa, guru akan menanamkan nilai dan norma sosial yang akan membangun kepribadian para siswa. Hal ini mesti dilakukan agar para siswa bisa menjadi individu beradab.
  4. Keluarga
    Keluarga dapat berperan sebagai pranata pengendalian sosial bagi anak-anak. Peranan keluarga dalam pengendalian sosial sangat besar, sebab lingkungan keluarga merupakan tempat pertama dan utama bagi anak-anak untuk belajar hidup sosial, termasuk mengenal nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
  5. Pengadilan Adat
Pengadilan adat merupakan suatu lembaga yang terdapat pada masyarakat yang masih kuat memegang adat-istiadat. Lembaga adat bertugas untuk mengawasi atau mengendalikan warga yang melanggar norma adat. Hukuman bagi para pelanggar norma adat dapat berupa denda atau diusir dari lingkungan masyarakat adat yang bersangkutan.
  1. Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah para pemimpin masyarakat, baik formal maupun informal. Mereka ditokohkan karena memiliki pengaruh atau wibawa atau kharisma di hadapan masyarakatnya. Para tokoh masyarakat dapat melakukan peranan pengendalian sosial terhadap warga masyarakatnya. Misalnya dengan cara mendidik, menasihati, membimbing, membina, menegur, dan sebagainya, agar warga masyarakatnya mematuhi nilai-nilai dan norma yang berlaku.
  1. Media Massa

Media massa efektif juga untuk mengendalikan kehidupan sosial masyarakat. Apalagi media massa memiliki cakupan luas, sehingga dapat mengontrol perilaku para pemimpin dan warga masyarakat. Media massa dapat pula membentuk opini publik sehingga memengaruhi sikap dan pendapat warga masyarakat tentang sesuatu hal.