BAB V
PERILAKU MENYIMPANG
Definisi perilaku menyimpang (Lawang)
v Semua
tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem
sosial (Lawang)
v Penyimpangan
tidak hanya dapat dikategorikan kepada individu atau masyaraka dengan kategori
penyimpangan dan penyimpang, tetapi akan dijumpai pula yang disebut dengan
institusi menyimpang (Korblum)
v Tindakan
yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar
batas toleransi. Norma dan nilai sosial masyarakat yang satu berbeda dengan
norma dan nilai sosial masyarakat lainnya (Zanden)
Bentuk-bentuk perilaku menyimpang (Lemert)
v Penyimpangan
primer: perbuatan menyimpang yang dilakukan seseorang, namun sang pelaku masih
dapat diterima secara sosial. Ciri penyimpangan: sifatnya sementara, tidak
berulang, dan dapat ditolerir masyarakat, seperti mengendarai motor atau mobil
melebihi kecepatan yang normal/kebut-kebutan
v Penyimpangan
sekunder: perbuatan yang dilakukan seseorang secara umum dikenal perbuatan atau
perilaku menyimpang. Seperti memerkosa, membunuh, merampok, mabuk-mabukan, dll.
Tipe atau cara adaptasi individu terhadap situasi tertentu (Merton)
v Cara
adaptasi konformitas: perilaku seseorang mengikuti cara dan tujuan yang telah
ditetapkan oleh masyarakat
v Cara
adaptasi inovasi: perilaku seseorang mengikuti tujuan yang ditentukan
masyarakat
v Cara
adaptasi ritualisme: perilaku seseorang telah meninggalkan tujuan budaya,
tetapi tetap berpegang teguh pada cara yang telah ditetapkan masyarakat
v Cara
adaptasi retreatisme: perilaku seseorang tidak mengikuti tujuan dan cara yang
dikehendaki
v Cara
adaptasi pemberontakan: orang tidak lagi mengakui struktur sosial yang ada dan
berupaya menciptakan struktur sosial yang baru
v Dari
keseluruhan tipe-tipe tersebut, tipe adaptasi pertama merupakan bentuk perilaku
yang tidak menyimpang, sementara empat tipe berikutnya merupakan bentuk
perilaku menyimpang
Hubungan antara perilaku menyimpang dan sosialisasi yang tidak sempurna
v sering
terjadi ketidaksepadanan antara pesan yang disampaikan pelaku sosialisasi yang
satu dengan pelaku sosialisasi yang lain, ketidaksepadanan ini membuat
sosialisasi menjadi kurang sempurna
v ketidaksepadanan
pesan-pesan yang disampaikan oleh pelaku-pelaku sosialisasi juga bisa dilihat
dari maraknya perkelahian antar pelajar yang menjurus pada tindakan kriminal
v norma
dan nilai sosial keagamaan yang ditawarkan sejak mereka bayi tidak cukup
berjalan dan sinkron untuk bisa dihadapkan dengan kenyataan dalam masyarakat
v perilaku
menyimpang juga bisa terjadi ketika dalam proses sosialisasi, seseorang
mengambil peran yang salah dari generalized others atau meniru perilaku
yang salah
v perilaku
menyimpang juga terjadi pada masyarakat yang memiliki nilai-nilai sub
kebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang normanya
bertentangan dengan norma budaya yang dominan
Sifat-sifat perilaku menyimpang
v Penyimpangan
yang bersifat positif: penyimpangan yang mempunyai dampak positif terhadap
sistem sosial karena mengandung unsur inovatif, kreatif, dan memperkaya
alternatif. Penyimpangan demikian umumnya dapat diterima masyarakat karena
sesuai dengan perubahan zaman.
v Penyimpangan
yang bersifat negatif: pelaku bertindak ke arah nilai-nilai sosial yang
dipandang rendah dan berakibat buruk serta menggangu sistem sosial. Tindakan
dan pelakunya akan dicela dan tidak diterima oleh masyarakat. Bobot
penyimpangan dapat diukur menurut kaidah sosial yang dilanggar
Macam-macam perilaku menyimpang
v Tindakan
kriminal atau kejahatan: umumnya dilihat bertentangan dengan norma hukum, norma
sosial, dan norma agama yang berlaku di masyarakat
v Penyimpangan
seksual: perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan
v Pemakaian
dan pengedaran obat terlarang: merupakan bentuk penyimpangan dari nilai dan
norma sosial maupun agama
v Penyimpangan
dalam bentuk gaya hidup: yang lain dari biasanya antara lain sikap arogansi dan
eksentrik
Tipe atau jenis kejahatan (Light, Keller, Calhoun, Giddens)
v Kejahatan
tanpa korban (crime without victim): tidak mengakibatkan penderitaan
pada korban akibat tindak pidana orang lain
v Kejahatan
terorganisasi (organized crime): merupakan komplotan yang secara
berkesinambungan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan uang atau kekuasaan
dengan jalan menghindari hukum
v Kejahatan
kerah putih (white collar crime): kejahatan yang mengacu pada kejahatan
yang dilakukan oleh orang terpandang atau orang yang berstatus tinggi dalam
rangka pekerjaannya
v Kejahatan
pemerintahan (govermental crime): kejahatan yang dilakukan atas nama
organisasi dengan tujuan menaikkan keuntungan atau menekan kerugian
v Kejahatan
pemerintahan (govermental crime):
kejahatan yang dilakukan oleh lembaga atau aparat pemerintahan resmi di
sebuah negara
v Kejahatan
dunia maya (cyber crime): dengan berkembang teknologi informasi, dengan
menyebarluaskan virus komputer, pornografi, pencurian kartu kredit, atau
merusak sistem sebuah organisasi
Jenis-jenis penyimpangan seksual
v Perzinahan:
hubungan seksual di luar nikah
v Lesbianisme:
hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama wanita
v Homoseks:
hubungan seksual yang dilakukan oleh sesama lelaki
v Kumpul
kebo: hidup seperti suami istri tanpa nikah
v Sodomi:
hubungan seks melalui anus
v Transvestitisme:
memuaskan keinginan seks dengan mengenakan pakaian lawan jenis
v Sadisme:
pemuasan seks dengan menyakiti orang lain
v Pedophilia:
memuaskan keinginan seks dengan mengadakan kontak seksual dengan anak-anak
Sebab-sebab terjadinya penyalahgunaan obat-obatan terlarang pada remaja
v Perkembangan
emosi yang belum stabil
v Cenderung
ingin mencoba
v Kepribadian
yang cenderung asosial (tidak mempertimbangkan orang lain, kondisi kecemasan
atau depresi, situasi keluarga yang tidak harmonis, salah memilih teman,
obat-obatan yang mudah diperoleh)
Faktor-faktor yang menyebabkan remaja terjerumus pada penggunaan narkotika
(Baliane)
v Ingin
membuktikan keberanian dalam melakukan tindakan berbahaya
v Ingin
menunjukkan tindakan menentang orangtua yang otoriter atau siapa saja yang
tidak sepaham dengan dirinya
v Ingin
melepaskan diri dari kesepian dan memperoleh pengalaman emosional
v Ingin
mencari dan menemukan arti hidup (yang semu)
v Ingin
mengisi kekosongan dan kebosanan (tidak memilik banyak aktivitas)
v Ingin
menghilangkan kegelisahan
v Solidaritas
di antara kawan
Ingin tahu dan iseng
Tidak ada komentar:
Posting Komentar