Minggu, 03 Mei 2015

BAHAN BACAAN SOSIOLOGI SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015 (1)

BAB IV
SOSIALISASI & PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN

Pengertian Sosialisasi
v Penanaman atau proses belajar anggota kelompok atau masyarakat tentang kebiasaan-kebiasaan di dalam kelompok atau masyarakatnya dalam sosiologi disebut sosialisasi.
v Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
v Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang berpartisipasi di dalam masyarakat
v Sosialisasi adalah proses belajar seorang anak untuk menjadi anggota yang dapat berpartisipasi di dalam masyarakat (Peter L. Berger)
v Sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan tentang nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota kelompok masyarakat (David Gaslin)
v Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah peran, nilai, dan norma sosial
v Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah peran-peran (Peter L. Berger)
v Yang dipelajari dalam proses sosialisasi adalah nilai dan norma sosial (David Gaslin)

Peran Nilai dan Norma Sosial dalam Sosialisasi
v Nilai dan norma sosial merupakan isi yang dipelajari seseorang untuk membentuk dirinya, nilai dan norma sosial juga menjadi penentu bagaimana pola sosialisasi akan berlangsung dalam diri masyarakat.
v Pada dasarnya, tidak ada seorang manusia pun yang tidak melakukan proses sosialisasi dalam hidupnya. Manusia hidup dari dan dalam masyarakat
v Sosialisasi sangat penting bagi manusia, tanpa sosialisasi maka kemampuan akal, emosi, dan jiwa seseorang tidak dapat berkembang sesuai dengan yang diharapkan masyarakatnya

Tahapan-tahapan perkembangan diri manusia (Mead)
v Play stage: seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang-orang yang berada di sekitarnya
v Game stage: seorang anak tidak hanya mengetahui peran yang harus dijalankannya, tetapi telah mengetahui peran yang dijalankan orang lain dengan siapa ia berinteraksi
v Generalized others: anak telah mampu mengambil peran-peran orang lain yang lebih luas (generalized others), tidak sekedar orang-orang terdekatnya (significant others)

Tahapan-tahapan diri seseorang yang berkembang melalui interaksi atau bercermin dengan orang lain (Chooley)
v seseorang membayangkan bagaimana perilaku atau tindakannya tampak bagi orang lain
v seseorang membayangkan bagaimana orang lain menilai perilaku atau tindakan itu
v seseorang membangun konsepsi tentang dirinya berdasarkan asumsi penilaian orang lain terhadap dirinya itu

Tujuan-tujuan sosialisasi
v membekali seseorang dengan keterampilan tertentu
v mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara efektif
v mengendalikan fungsi-fungsi organik melalui latihan mawas diri yang tepat
v membiasakan diri berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat

Faktor-faktor yang membentuk atau menentukan kepribadian seseorang
v Warisan biologis (keturunan): faktor keturunan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Warisan biologis menyediakan bahan mentah kepribadian dan bahan mentah ini dapat dibentuk dengan dan dalam berbagai cara
v Lingkungan fisik (geografis): perbedaan perilaku kelompok terutama disebabkan oleh perbedaan iklim, topografi (permukaan atau relief bumi), dan sumber alam
v Kebudayaan: keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, baik berupa gagasan, aktivitas, dan hasil dari aktivitas manusia yang digunakan untuk memahami lingkungan dan pengalamannya, serta dijadikan pedoman hidup anggota masyarakat
v Pengalaman kelompok: masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok degan budaya dan standar atau ukuran moral yang berbeda, dan digunakan untuk menentukan mana kepribadian yang baik (sesuai dengan harapan) dan mana yang tidak baik
v Pengalaman unik: tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama satu sama lainnya dan tidak seorang pun mempunyai latar belakang pengalaman yang sama

Agen-agen sosialisasi  (Fuller dan Jacobs)
v Keluarga: pada awal kehidupan seseorang, agen sosialisasi terdiri atas orangtua dan saudara kandung, kemudian sistem keluarga luas (paman, bibi, kakek, nenek), kemudian sekarang ada pengasuh (baby sitter) dan pekerja pada tempat penitipan anak yang secara status bukan anggota keluarga. Pengaruh orangtua yang sangat dominan tidak jarang dapat menimbulkan penyalahgunaan kekuasaan orangtua terhadap anaknya sendiri (penganiayaan/child abuse dan perkosaan). Sebaliknya perilaku dan sikap anggota keluarga yang cenderung disiplin akan mudah dan menjadikan anak disiplin
v Kelompok sebaya atau sepermainan (peer group): setelah anak dapat berjalan, berbicara, bepergian, mulai bertemu dan berinteraksi dengan teman sebayanya yang biasanya berasal dari keluarga lain. Anak mempelajari berbagai aturan tentang peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat, sehingga mengenal nilai-nilai keadilan, kebenaran, toleransi, dan solidaritas
v Sekolah: seseorang akan mempelajari hal baru yang tidak diajarkan di dalam keluarga maupun kelompok sepermainannya. Sekolah mempersiapkan untuk peran-peran baru di masa mendatang saat ia tidak tergantung lagi pada orangtua. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan mempengaruhi perkembangan intelektual anak, tetapi juga mempengaruhi kemandirian, tanggungjawab dan tata tertib
v Media massa: merupakan bentuk komunikasi dan rekreasi yang menjangkau sejumlah besar orang. Media ini begitu dominan dalam proses sosialisasi karena anak-anak lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar televisi dibandingkan waktu yang digunakan untuk belajar. Penayangan film keras dan brutal melalui televisi dapat menimbulkan perilaku keras, mempengaruhi sikap dan perilaku agresif pada anak, dan iklan yang ditayangkan mempunyai potensi untuk memicu perubahan pola konsumsi atau gaya hidup masyarakat.

Bentuk-bentuk sosialisasi (Light, Keller, Callhoun)
v Sosialisasi primer: sosialisasi pada tahap-tahap awal kehidupan seseorang sebagai manusia. Sosialisasi primer akan mempengaruhi seorang anak untuk dapat membedakan dirinya dengan orang lain yang berada di sekitarnya, seperti ayah, ibu, kakak, dan adik
v Sosialisasi sekunder: proses berikutnya yang memperkenalkan individu ke dalam lingkungan di luar keluarganya, seperti sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan kerja

Tipe-tipe sosialisasi
v Formal: terjadi melalui lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti pendidikan di sekolah dan pendidikan militer.
v Informal: terdapat di masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara teman, sahabat, sesaama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada di masyarakat

Pola-pola sosialisasi (Jaeger)
v Sosialiasasi represif: menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan, penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan, penekanan pada kepatuhan anak pada orangtua, penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah, non verbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orangtua dan pada keinginan orangtua, dan peran keluarga sebagai significant others.
v Sosialisasi partisipatoris: pola di mana anak diberi imbalan ketika berprilaku baik, hukuman dan imbalan bersifat simbolik, dalam proses ini anak diberi kebebasan, penekanan pada interaksi dan komunikasi yang bersifat lisan, yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak, keluarga menjadi generalized others.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar